Foto: X Antifa Ultras
Ketegangan antara Roger Waters dan vokalis David Draiman kembali memanas setelah keduanya saling melontarkan kritik tajam terkait konflik Israel–Palestina. Perseteruan ini bermula ketika Draiman menuduh Waters melakukan “pengkhianatan besar” terhadap komunitas Yahudi di seluruh dunia karena sikap politiknya yang vokal membela Palestina.
Komentar tersebut muncul saat Draiman menjadi tamu dalam podcast The Magnificent Others milik Billy Corgan. Dalam perbincangan mengenai konflik Timur Tengah, Draiman—yang dikenal sebagai pendukung Israel—mengaku tumbuh besar sebagai penggemar musik Pink Floyd, namun merasa kecewa dengan sikap politik Waters. Ia bahkan mengatakan akan “memukul” sang musisi jika keduanya bertemu, meski tetap membuka kemungkinan berdialog setelahnya.
Waters kemudian merespons melalui media sosial X pada 16 April. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa kritik terhadap dirinya muncul karena sikapnya membela hak asasi manusia, khususnya warga Gaza. Waters melontarkan serangan balik keras dengan menyebut Draiman sebagai “psychotic racist Nazi pig”, sekaligus menegaskan bahwa dirinya akan terus memperjuangkan kesetaraan hak bagi semua manusia tanpa memandang agama, etnis, maupun kewarganegaraan.

Menanggapi balasan tersebut, Draiman menyatakan kekecewaannya karena sebelumnya ia mengaku masih terbuka untuk berdialog meski memiliki perbedaan pandangan mendasar. Ia menilai respons Waters dapat diprediksi, namun tetap menegaskan komitmennya terhadap upaya perdamaian. Perseteruan ini bukan kali pertama terjadi; pada 2024 Draiman juga pernah menuding Waters bersikap anti-Semit, sementara sebelumnya ia mengkritik seruan boikot Israel yang didukung musisi legendaris tersebut.
Waters sendiri berkali-kali membantah tuduhan anti-Semitisme. Pada 2023, ia mengecam dokumenter The Dark Side Of Roger Waters yang dirilis oleh Creative Artists Agency, menyebut film itu sebagai propaganda yang menyamakan kritik terhadap Israel dengan kebencian terhadap Yahudi. Kontroversi semakin berkembang ketika Pengadilan Tinggi Inggris pada 2025 mengeluarkan putusan awal terkait gugatan pencemaran nama baik terhadap jurnalis investigatif John Ware, setelah pernyataan Waters dalam wawancara media.
Selama bertahun-tahun, Waters dikenal sebagai aktivis vokal pro-Palestina. Ia bahkan menyerukan pemilih Amerika untuk tidak memilih kandidat presiden Kamala Harris maupun Donald Trump karena sikap mereka terhadap konflik tersebut. Di tengah berbagai kontroversi politik dan perseteruan dengan sejumlah musisi lain, Waters tetap aktif bermusik dan kini dilaporkan tengah mencari vokalis baru untuk grup tribute Pink Floyd milik putranya setelah melakukan perubahan dalam formasi tur solonya.
Teks: El Flaco
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar